Kamis, 11 November 2010

life freedom

Saya... Tidak pernah bermimpi dan berharap diberi kebebasan yg saya dapat sekarang ini..
Dulu, jika diingat lagi saya seorang anak rumahan yg punya batas waktu pergi keluar ruma.. Keluar atau sekedar main. keluar rumah hanya untuk sekolah dan les, selebihnya butuh banyak izin ini itu bla bla bla and bla (mmm.. bisa dibilang sy paku rumah) hehe :).

TAPI. Itu dulu. Jaman sy msh abg (kata orang tua saya) dimana masih labil-labilnya. padahal saya pikir, sekarangpun masih suka labil hihihihii.
SEKARANG. mungkin BESOK, Kebebasan itu akan ada dalam hidup saya. forever. 
Kebebasan yg telah diberikan mereka (baca: orang tua), menjadikan saya lebih bisa memaknai hidup dan kehidupan. Terutama hidup saya!

Bertemu dengan banyak orang dalam keadaan apapun dan mengenal hingga harus menghargainya.
Mengenal banyak kepribadian, mulai sikap,sifat,budaya dll.
Mengalami berbagai macam masalah ini itu, diluar apa yang saya bayangkan soal kehidupan  sampai dapat menyelesaikannya sendiri dgn pikiran sendiri tentunya.
INI semua mulai dan akan membentuk karakter saya untuk menjadikan pola pikir saya yg lebih bebas, lebih terbuka serta melihat apapun dr berbagai sudut pandang, lebih baik dan lebih kuat, TENTUNYA.
Saya sangat beruntung mempunyai keluarga yg memberikan kebebasan pada saya. Bukan berarti mereka orang tua yg tidak perhatian tapi menurut saya mereka sangat sangat perhatian dan ingin saya mandiri :).

Kebebasan yg saya dapat, membuat banyak warna dalam hidup saya..
Kebebasan yg diberikan mereka, adalah suatu kepercayaan buat saya, kalau saya bisa menjalaninya.

Buat kalian yg diberi kebebasan, apapun itu bentuknya..
Itu suatu kepercayaan dari orang2 yg sayang pada kalian.. Karena mereka ingin, kita bisa mengetahui, menjalani atau melakukan pilihan hidup yg kita mau..
Jadi, jagalah kepercayaan yg mereka berikan itu..


Thanx to mama..
Terima kasih untuk semuanya..

Rabu, 14 Juli 2010

R.I.N.D.U

fuuuuuuuuuuhhh *hembusan nafas yang panjang*

-----------
disini ada perasaan yang sangat menyayat setiap kali menatap selembar demi selembar foto-foto itu dan ada pula perasaan terpenggal. terpenggal satu demi satu.
apa yang aku rasakan hanya sekedar rasa rindu yang tidak bisa diungkapkan, direalisasikan, bahkan hanya untuk memegangnya. tidak bisa.

aku rindu bercengkrama, aku rindu bernyanyi bersama, aku rindu berkeliling kota dengan kerlip lampu malam yang indah, aku rindu canda dan ceritanya. aku rindu

tawanya kini perlahan-lahan mulai lenyap dari ingatanku, tidak hanya itu wujudnya pun sulit kugapai, mesti kugali, kutelusuri, itu pun belum tentu kudapati dan kutemui seperti waktu itu... yah seperti waktu itu. sampai kapan harus menunggu semua kembali (sulit rasanya).
seperti malam ini yang sepi, ntah mengapa rindu pada semua itu..

seperti air yang mengalir terlampau deras. mungkin deras sekali. bahkan derasnya bila disentuh membuat kulit ini perih terhempas.. tembok kokoh pun (mungkin) tak mampu mengalahkan derasnya air.
terlalu besar. terlalu kencang. terlalu kuat. terlalu banyak. terlalu sakit. terlalu deras, hingga menggenangi.
menggenangi sampai banjir dan membuat terhanyut.

yah.. aku tidak boleh sampai terbawa arus derasnya air ini.
sesakit apapun air ini, sekuat apapun, sederas apapun, dan sekencang apapun.. aku tidak boleh terbawa!!
aku harus bergegas membenahi ini. pasti aku benahi. aku janji.
janji pada diriku.


---------- end

Rabu, 23 Juni 2010

.selayang pandang dieng.

Udara yang sejuk, lingkungan yang asri, dan masyarakat yang ramah. Ini lah Wonosobo. Wonosobo adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, dimana kondisi fisik yang berbukit dengan lembah yang curam, sungai berbatu mengalir air yang jernih dan bersih, pegunungan-pegunungan dengan panoramanya yang indah. Wonosobo beriklim sejuk dan masih sangat hijau, kota ini sangat cocok untuk memenuhi kerinduan akan suasana yang tenang dan alami.
Wonosobo memiliki dataran tinggi  Dieng, dimana dari kota Wonosobo hanya memerlukan satu jam untuk sampai ke dataran tinggi dieng. Jalan menuju ke Dieng menanjak dan berkelok-kelok, namun selama perjalanan mata saya dimanjakan oleh hijaunya pepohonan dan dihadapkan dengan dua gunung yang gagah yaitu gunung Perahu dan disebelah kanan ada gunung Sindoro. 

dok pribadi

         Sekitar setengah jam perjalanan, setelah melewati pasar Kejajar Dieng saya berhenti di 15 persen. 15 persen ini mirip dengan puncak, namun ntah kenapa diberi nama 15 persen, kata penduduk sekitar, jalannya menjulang nyaris tegak.
Disini saya bisa melihat pemadangan kebun kentang yang terkenal dengan sebutan kendi (kentang dieng). Di Dataran Tinggi Dieng para petani mengadakan sistem perairan sendiri untuk tanaman kentangnya, disepanjang jalan kita akan melihat pipa-pipa air yang melintasi lahan kentang. Selain pipa-pipa air, kita juga akan sering melihat pipa uap/steam untuk listrik yang diambil dari kawah-kawah yang banyak tersedia di Dieng.

selamat datang Dieng. dok pribadi

         Dataran tinggi dieng ini disebut Dieng Plateu yang terletak pada ketinggian 2100 m di atas permukaan laut. Tempat ini menawarkan keindahan alam serta hawa dingin pegunungan. Tidak heran jika suhu udara di daerah ini berkisar antara 15-10 Celcius. Bahkan, bila Anda berkunjung pada musim kemarau suhunya bisa mencapai 5° Celcius.
        Nama “Dieng” berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu “di” yang berarti “gunung” dan “hyang” dari kata “khayangan”, yang artinya “tempat tinggal para dewa dan dewi”. Bila digabungkan, nama “dieng” berarti “pegunungan tempat tinggal para dewa dan dewi”. Tapi ada sumber lain yang menyebutkan, “Dieng” berasal dari kata dalam bahasa Jawa, yaitu “edi” yang berarti indah atau cantik dan “aeng” yang berarti aneh. Jadi “dieng” berarti “tempat yang indah dan punya keanehan.
        Dataran tinggi dieng memiliki banyak kota wisata, antaranya ada telaga warna, kawah dan candi.  Disebut Telaga Warna karena memiliki keunikan tersendiri berkaitan dengan warna telaga. Telaga ini terkadang berwarna hijau dan kuning, biru dan kuning, atau berwarna-warni mirip pelangi. Variasi warna ini dipengaruhi cuaca, waktu dan tempat kita  melihatnya.
Untungnya saat saya melihat telaga warna ini cuaca sedang bagus-bagusnya, jadi timbul beberapa warna, seperti hijau dan kuning, serta biru dan kuning. Seru sekali bisa melihat gradasi warna dalam telaga. Menikmati telaga warna sambil bersantai, kita juga dapat menghirup udara segar yang datang dari pegunungan disekitarnya dan ditemani dengan birunya langit. Hmmmm indahnya dunia ini >.<
telaga warna. dok pribadi



Menurut masyarakat setempat, ada suatu kisah yang menyebabkan warna danau alias telaga ini berwarna-warni. Konon, dahulu cincin milik bangsawan setempat yang bertuah terjatuh ke dasar telaga. Semantara dari kajian ilmiah, telaga ini merupakan kawah gunung berapi yang mengandung belerang. Akibatnya, bila air telaga terkena sinar matahari akan bias menjadi warna-warni yang sangat indah dan mempesona..


 
dok pribadi

Selain telaga, di kawasan Dieng terdapat juga beberapa kawah. Kawah-kawah tersebut terbentuk dari letusan gunung-gunung yang mengelilingi tempat ini. Salah satunya kawah Sikidang/kijang, ntah mengapa diberi nama seperti itu, mungkin dulu banyak kijang hehe :D.
Kawah ini menyemburkan air dan lumpur panas serta mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Bau tidak sedap itu berasal dari kandungan belerang yang ada didalamnya. Di sekitar kawah banyak lubang yang mengeluarkan air mendidih berwarna jernih, sehingga kita harus berhati-hati jika melintasi jalanan menuju kawah. Selain Kawah Sikidang, ada juga Kawah Candradimuka, dan kawah Sileri, yang letaknya tidak jauh. 

Kawah Sikidang, dok pribadi
Selain telaga dan kawah, di sini kita juga bisa mengunjungi candi. Di dataran tinggi dieng, ada komplek berisikan empat candi, yaitu Candi Gatotkaca, Arjuna, Setiaki, dan Balaikambing. Candi-candi yang tersebar di kawasan ini bercorak Hindu. 
Sebaiknya jika ingin berkunjung ke dieng, datanglah sebelum matahari terbit. Karena kita bisa melihat sunrise dari balik dataran tinggi pegunungan. karena bila melihat dari balik sana sunrisenya sangatlah indah dan cantik. kitapun akan ditemani cuaca yang sejuk. 
Tak terasa perjalanan saya ke pegunungan dieng cukup melelahkan. dinginnya cukup melelahkan hehehhe. sayang, dari perjalanan ini saya melewatkan Golden sunrise dan silver sunrise karena kita harus standby di balik bukit pegunungan dieng jam 3 pagi. jam segitu saya masih dialam mimipi hihihiihii. semoga dilain waktu bisa melihatnya. amin ^.^
oia, selama saya berada di dieng dan kota wonosobo, setiap makan pasti selalu ditemani dengan yg namanya mie ongklok. seperti mie biasa sih, bedanya hanya dicara penyajian dan tentunya BUMUBU yang khas. nyamiii deh >.<

Mie Ongklok, dok pribadi


...

Rabu, 16 Juni 2010

sedikit cerita disudut kota Jakarta

Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam. selama berabad-abad kemudian kota bandar ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai hingga kini. tepat tanggal 22 Juni nanti kota ini berulang tahun, dan akan ada perayaan untuknya yang meriah seperti tahun-tahun sebelumnya.

mmmm.... namun, disini saya bukan ingin menulis tentang sejarah ataupun hari jadinya kota ini. tapi, saya ingin sedikit berbagi cerita tentang hari ini di kota ini yang tidak hanya terkenal kemacetannya, kebisingannya, keramaiannya, ataupun polusinya (mmm... dan sudah bukan rahasia umum lagi :D). itu semua membuat saya pusing dan eneg tentunya, namun hal ini sudah biasa dan terbiasa. kali ini, yang membuat saya ingin menulis adalah karena sebuah pemandanganan yang tidak enak untuk dilihat..
 
bagaimana tidak enak dilihat, saya hampir muntah dibuatnya. bayangkan saja, hari ini ada ampat *berapi-api* pengemis yang bermotif sama... dengan cara meminta dan memohon kepada saya dan penumpang lainnya untuk iba pada luka yang membusuk.. ada yang dipergelangan kaki, dengkul, paha, hingga lengan. entah disengaja atau tidak, itu hanya mereka yang tau. tapi luka membusuk itu membuat saya pusing dan eneg, ntah pada penumpang lain...
 
oia, saya juga tidak ingin berlebihan, namun membusuk disini dalam arti sebenarnya :(..
ini baru kali pertama saya melihat luka busuk yang dimanfaatkan seseorang untuk mengemis...
 
maaf, bukan apa-apa.. saya mengerti maksud mereka, apa lagi di kota ini banyak sekali orang seperti mereka yang bisa kita temui... mereka salah satu peramai kota ini...
saya baru saja berada sehari di kota ini, namun membuat saya jengah dengan pola dan tingkah orang-orang yang menghuni kota ini..
memang bukan salah mereka tapi keadaan yang memang begini adanya!

saya bersyukur, untuk semua yang ada pada diri saya.. saya masih lebih beruntung dari mereka... maaf teman-teman yang memohon dan meminta bantuan, saya tidak bisa membantu banyak untuk luka kalian.. maaf.




Senin, 22 Februari 2010

ANDAI !!!

Andai aku berjiwa besar
Andai aku berhati mulia
Andai aku bisa terus mengerti
Andai aku bisa selalu menerima
Andai aku tidak punya perasaan
Andai aku bisa mengungkapkan
Andai aku bisa memutar waktu
Andai aku... Andai aku... Dan andai aku.
Ntah mengapa terlintas kalimat itu dibenak dan ntah mengapa pula tangan ini.
Aku menjadi seseorang yg tidak mengenal pikiranku sendiri..
Ntah. aku tidak sedang ingin berpikir... Tidak!!
Aku hanya sibuk membuat perasaan ini tenang dan nyaman saat ini sampai tdk terkontrol dan bahkan berbalik.
Aku butuh...
Aku butuh itu...
Aku butuh itu... Yah. butuh!
Butuh sendiri.
Butuh meyakinkan diri dengan semua perasaan dan pikiran yg ada dalam benak sendiri...