Rabu, 23 Juni 2010

.selayang pandang dieng.

Udara yang sejuk, lingkungan yang asri, dan masyarakat yang ramah. Ini lah Wonosobo. Wonosobo adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, dimana kondisi fisik yang berbukit dengan lembah yang curam, sungai berbatu mengalir air yang jernih dan bersih, pegunungan-pegunungan dengan panoramanya yang indah. Wonosobo beriklim sejuk dan masih sangat hijau, kota ini sangat cocok untuk memenuhi kerinduan akan suasana yang tenang dan alami.
Wonosobo memiliki dataran tinggi  Dieng, dimana dari kota Wonosobo hanya memerlukan satu jam untuk sampai ke dataran tinggi dieng. Jalan menuju ke Dieng menanjak dan berkelok-kelok, namun selama perjalanan mata saya dimanjakan oleh hijaunya pepohonan dan dihadapkan dengan dua gunung yang gagah yaitu gunung Perahu dan disebelah kanan ada gunung Sindoro. 

dok pribadi

         Sekitar setengah jam perjalanan, setelah melewati pasar Kejajar Dieng saya berhenti di 15 persen. 15 persen ini mirip dengan puncak, namun ntah kenapa diberi nama 15 persen, kata penduduk sekitar, jalannya menjulang nyaris tegak.
Disini saya bisa melihat pemadangan kebun kentang yang terkenal dengan sebutan kendi (kentang dieng). Di Dataran Tinggi Dieng para petani mengadakan sistem perairan sendiri untuk tanaman kentangnya, disepanjang jalan kita akan melihat pipa-pipa air yang melintasi lahan kentang. Selain pipa-pipa air, kita juga akan sering melihat pipa uap/steam untuk listrik yang diambil dari kawah-kawah yang banyak tersedia di Dieng.

selamat datang Dieng. dok pribadi

         Dataran tinggi dieng ini disebut Dieng Plateu yang terletak pada ketinggian 2100 m di atas permukaan laut. Tempat ini menawarkan keindahan alam serta hawa dingin pegunungan. Tidak heran jika suhu udara di daerah ini berkisar antara 15-10 Celcius. Bahkan, bila Anda berkunjung pada musim kemarau suhunya bisa mencapai 5° Celcius.
        Nama “Dieng” berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu “di” yang berarti “gunung” dan “hyang” dari kata “khayangan”, yang artinya “tempat tinggal para dewa dan dewi”. Bila digabungkan, nama “dieng” berarti “pegunungan tempat tinggal para dewa dan dewi”. Tapi ada sumber lain yang menyebutkan, “Dieng” berasal dari kata dalam bahasa Jawa, yaitu “edi” yang berarti indah atau cantik dan “aeng” yang berarti aneh. Jadi “dieng” berarti “tempat yang indah dan punya keanehan.
        Dataran tinggi dieng memiliki banyak kota wisata, antaranya ada telaga warna, kawah dan candi.  Disebut Telaga Warna karena memiliki keunikan tersendiri berkaitan dengan warna telaga. Telaga ini terkadang berwarna hijau dan kuning, biru dan kuning, atau berwarna-warni mirip pelangi. Variasi warna ini dipengaruhi cuaca, waktu dan tempat kita  melihatnya.
Untungnya saat saya melihat telaga warna ini cuaca sedang bagus-bagusnya, jadi timbul beberapa warna, seperti hijau dan kuning, serta biru dan kuning. Seru sekali bisa melihat gradasi warna dalam telaga. Menikmati telaga warna sambil bersantai, kita juga dapat menghirup udara segar yang datang dari pegunungan disekitarnya dan ditemani dengan birunya langit. Hmmmm indahnya dunia ini >.<
telaga warna. dok pribadi



Menurut masyarakat setempat, ada suatu kisah yang menyebabkan warna danau alias telaga ini berwarna-warni. Konon, dahulu cincin milik bangsawan setempat yang bertuah terjatuh ke dasar telaga. Semantara dari kajian ilmiah, telaga ini merupakan kawah gunung berapi yang mengandung belerang. Akibatnya, bila air telaga terkena sinar matahari akan bias menjadi warna-warni yang sangat indah dan mempesona..


 
dok pribadi

Selain telaga, di kawasan Dieng terdapat juga beberapa kawah. Kawah-kawah tersebut terbentuk dari letusan gunung-gunung yang mengelilingi tempat ini. Salah satunya kawah Sikidang/kijang, ntah mengapa diberi nama seperti itu, mungkin dulu banyak kijang hehe :D.
Kawah ini menyemburkan air dan lumpur panas serta mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Bau tidak sedap itu berasal dari kandungan belerang yang ada didalamnya. Di sekitar kawah banyak lubang yang mengeluarkan air mendidih berwarna jernih, sehingga kita harus berhati-hati jika melintasi jalanan menuju kawah. Selain Kawah Sikidang, ada juga Kawah Candradimuka, dan kawah Sileri, yang letaknya tidak jauh. 

Kawah Sikidang, dok pribadi
Selain telaga dan kawah, di sini kita juga bisa mengunjungi candi. Di dataran tinggi dieng, ada komplek berisikan empat candi, yaitu Candi Gatotkaca, Arjuna, Setiaki, dan Balaikambing. Candi-candi yang tersebar di kawasan ini bercorak Hindu. 
Sebaiknya jika ingin berkunjung ke dieng, datanglah sebelum matahari terbit. Karena kita bisa melihat sunrise dari balik dataran tinggi pegunungan. karena bila melihat dari balik sana sunrisenya sangatlah indah dan cantik. kitapun akan ditemani cuaca yang sejuk. 
Tak terasa perjalanan saya ke pegunungan dieng cukup melelahkan. dinginnya cukup melelahkan hehehhe. sayang, dari perjalanan ini saya melewatkan Golden sunrise dan silver sunrise karena kita harus standby di balik bukit pegunungan dieng jam 3 pagi. jam segitu saya masih dialam mimipi hihihiihii. semoga dilain waktu bisa melihatnya. amin ^.^
oia, selama saya berada di dieng dan kota wonosobo, setiap makan pasti selalu ditemani dengan yg namanya mie ongklok. seperti mie biasa sih, bedanya hanya dicara penyajian dan tentunya BUMUBU yang khas. nyamiii deh >.<

Mie Ongklok, dok pribadi


...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar