Udara yang sejuk, lingkungan yang asri, dan masyarakat yang
ramah. Ini lah Wonosobo. Wonosobo adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa
Tengah, dimana kondisi fisik yang berbukit dengan lembah yang curam, sungai
berbatu mengalir air yang jernih dan bersih, pegunungan-pegunungan dengan
panoramanya yang indah. Wonosobo beriklim sejuk dan masih sangat hijau, kota
ini sangat cocok untuk memenuhi kerinduan akan suasana yang tenang dan alami.
Wonosobo memiliki dataran tinggi
Dieng, dimana dari kota Wonosobo hanya memerlukan satu jam untuk sampai
ke dataran tinggi dieng. Jalan menuju ke Dieng
menanjak dan berkelok-kelok, namun selama perjalanan mata saya dimanjakan oleh
hijaunya pepohonan dan dihadapkan dengan dua gunung yang gagah yaitu gunung
Perahu dan disebelah kanan ada gunung Sindoro.
![]() | |
| dok pribadi |
Sekitar setengah jam perjalanan, setelah melewati pasar Kejajar Dieng saya berhenti di 15 persen. 15 persen ini mirip dengan puncak, namun ntah kenapa diberi nama 15 persen, kata penduduk sekitar, jalannya menjulang nyaris tegak.
Disini saya bisa melihat
pemadangan kebun kentang yang terkenal dengan sebutan kendi (kentang dieng). Di
Dataran Tinggi Dieng para petani mengadakan sistem perairan sendiri untuk
tanaman kentangnya, disepanjang jalan kita akan melihat pipa-pipa air yang
melintasi lahan kentang. Selain pipa-pipa air, kita juga akan sering melihat
pipa uap/steam untuk listrik yang diambil dari kawah-kawah yang banyak tersedia
di Dieng.
![]() | |
| selamat datang Dieng. dok pribadi |
Dataran tinggi dieng ini disebut Dieng Plateu yang
terletak pada ketinggian 2100 m di atas permukaan laut. Tempat ini menawarkan
keindahan alam serta hawa dingin pegunungan. Tidak heran jika suhu udara di
daerah ini berkisar antara 15-10 Celcius. Bahkan, bila Anda berkunjung pada
musim kemarau suhunya bisa mencapai 5° Celcius.
Nama “Dieng” berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu “di” yang berarti “gunung” dan “hyang” dari kata “khayangan”, yang artinya “tempat tinggal para dewa dan dewi”. Bila digabungkan, nama “dieng” berarti “pegunungan tempat tinggal para dewa dan dewi”. Tapi ada sumber lain yang menyebutkan, “Dieng” berasal dari kata dalam bahasa Jawa, yaitu “edi” yang berarti indah atau cantik dan “aeng” yang berarti aneh. Jadi “dieng” berarti “tempat yang indah dan punya keanehan.
Nama “Dieng” berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu “di” yang berarti “gunung” dan “hyang” dari kata “khayangan”, yang artinya “tempat tinggal para dewa dan dewi”. Bila digabungkan, nama “dieng” berarti “pegunungan tempat tinggal para dewa dan dewi”. Tapi ada sumber lain yang menyebutkan, “Dieng” berasal dari kata dalam bahasa Jawa, yaitu “edi” yang berarti indah atau cantik dan “aeng” yang berarti aneh. Jadi “dieng” berarti “tempat yang indah dan punya keanehan.
Dataran tinggi dieng memiliki banyak kota wisata, antaranya
ada telaga warna, kawah dan candi. Disebut
Telaga Warna karena memiliki keunikan tersendiri berkaitan dengan warna telaga.
Telaga ini terkadang berwarna hijau dan kuning, biru dan kuning, atau berwarna-warni
mirip pelangi. Variasi warna ini dipengaruhi cuaca, waktu dan tempat kita melihatnya.
Untungnya saat saya
melihat telaga warna ini cuaca sedang bagus-bagusnya, jadi timbul beberapa
warna, seperti hijau dan kuning, serta biru dan kuning. Seru sekali bisa
melihat gradasi warna dalam telaga. Menikmati telaga warna sambil bersantai,
kita juga dapat menghirup udara segar yang datang dari pegunungan disekitarnya
dan ditemani dengan birunya langit. Hmmmm indahnya dunia ini >.<
![]() |
| telaga warna. dok pribadi |
Menurut masyarakat setempat, ada suatu kisah yang
menyebabkan warna danau alias telaga ini berwarna-warni. Konon, dahulu cincin
milik bangsawan setempat yang bertuah terjatuh ke dasar telaga. Semantara dari
kajian ilmiah, telaga ini merupakan kawah gunung berapi yang mengandung belerang.
Akibatnya, bila air telaga terkena sinar matahari akan bias menjadi warna-warni
yang sangat indah dan mempesona..
![]() | |
| dok pribadi |
Selain telaga, di kawasan Dieng terdapat juga beberapa kawah. Kawah-kawah tersebut terbentuk dari letusan gunung-gunung yang mengelilingi tempat ini. Salah satunya kawah Sikidang/kijang, ntah mengapa diberi nama seperti itu, mungkin dulu banyak kijang hehe :D.
Kawah ini menyemburkan
air dan lumpur panas serta mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Bau tidak sedap
itu berasal dari kandungan belerang yang ada didalamnya. Di sekitar kawah banyak
lubang yang mengeluarkan air mendidih berwarna jernih, sehingga kita harus
berhati-hati jika melintasi jalanan menuju kawah. Selain Kawah Sikidang, ada
juga Kawah Candradimuka, dan kawah Sileri, yang letaknya tidak jauh.
![]() |
| Kawah Sikidang, dok pribadi |
Selain telaga dan kawah, di sini kita juga bisa
mengunjungi candi. Di dataran tinggi dieng, ada komplek berisikan empat candi,
yaitu Candi Gatotkaca, Arjuna, Setiaki, dan Balaikambing. Candi-candi yang
tersebar di kawasan ini bercorak Hindu.
Sebaiknya
jika
ingin berkunjung ke dieng, datanglah sebelum matahari terbit. Karena
kita
bisa melihat sunrise dari balik dataran tinggi pegunungan. karena bila
melihat dari balik sana sunrisenya sangatlah indah dan cantik. kitapun
akan ditemani cuaca yang sejuk.
Tak
terasa perjalanan saya ke pegunungan dieng cukup melelahkan. dinginnya
cukup melelahkan hehehhe. sayang, dari perjalanan ini saya melewatkan
Golden sunrise dan silver sunrise karena kita harus standby di balik
bukit pegunungan dieng jam 3 pagi. jam segitu saya masih dialam mimipi
hihihiihii. semoga dilain waktu bisa melihatnya. amin ^.^
oia,
selama saya berada di dieng dan kota wonosobo, setiap makan pasti
selalu ditemani dengan yg namanya mie ongklok. seperti mie biasa sih,
bedanya hanya dicara penyajian dan tentunya BUMUBU yang khas. nyamiii
deh >.<
![]() | |
| Mie Ongklok, dok pribadi |
...






Tidak ada komentar:
Posting Komentar